Selasa, 22 Desember 2009

CERPEN

Aku, Sang Pemuja Rahasia
Kukuruyuk…
Pagi yang cerah. Aku bergegas bangun dari tempat tidurku. Aku tak ingin terlambat pagi ini. Melewatkan moment-moment penting yang tak bisa aku “konsumsi” setiap hari. Ivan. Dialah moment-moment penting untukku. Seorang ketua BEM fakultas yang sudah meluluh lantakkan persepsi burukku terhadap lelaki. Sosok yang benar-benar aku harapkan. Begitu lembut tutur katanya dan yang paling membuatku terkagum adalah jiwa kepemimpinanya yang “wah”. Kalau Sheila on seven bilang “akulah pemuja rahasiamu”, aku pun bisa bilang “ akulah pemuja rahasiamu banget”. Lebih holic-an aku kan?.
Aku bergegas menuju jembatan yang menghubungkan enam jurusan di kampusku. Ivan selalu merenung di tempat itu. Lebih tepatnya di taman yang terletak tepat di sebelah kanan jembatan. Ku coba mencari sosok itu. Tak sulit untukku untuk mencarinya. Aku begitu hafal dengan semua gerakannya. Bahkan secara tak langsung aku dapat menghafal “pergantian” jaketnya. Senin kuning, selasa abu-abu, rabu hijau, kamis hitam, dan jum’at putih.
Ku siapkan kamera digital yang sudah tak terhitung lagi berapa “aksi” ivan yang sudah ditangkapnya. Jepret-jepret. Ku abadikan setiap moment yang aku rasa penting walaupun sebenarnya sama sekali tak penting. Apa bedanya antara tangan di atas kaki kiri sambil menggenggam dan tangan diatas kaki kiri dengan telapak tangan sedikit menggenggam. Tapi inilah surgaku. Aku merasa sangat berarti ketika dapat menemukan hal-hal kecil tentangnya yang mungkin tak diketahui oleh orang selain aku. Termasuk dina, reika, vina, titi. Empat gadis yang secara terang-terangan meluncurkan tembakan bahkan rudal cinta pada ivan.
Aku tersenyum. Mengingat banyak trik yang digunakan empat gadis yang tak pernah putus asa tersebut. Yang semuanya sia-sia. Tak sedikitpun ivan tertarik bahkan terpikat. Hanya kata terima kasih yang selalu aku dengar ketika empat gadis itu mulai mengeluarkan jurus-jurus perhatian.
“ ivan “ ku sebut namanya pelan
“dari mana aja, Neng?” Tanya vanya.
Sahabat karibku. Aku berhutang banyak padanya. Banyak info tentang ivan yang aku dapat darinya. Yah..dia sepupu ivan. Gadis pendiam yang penuh semangat. Inspirasi untukku.
Aku hanya tersenyum. Aku rasa itu bukan pertanyaan yang harus aku jawab. Bukan rahasia bagi vanya kalau aku ivanholic. Sepupunya.
“dapat apa aja, neng tyas?” ujarnya sambil melirikku. Iseng.
“dapat apa yang aku ingin dapat” ujarku cuek
“o..y..ivan kemarin bilang kalau rio, editor majalah kampus kita mengundurkan diri. Katanya sih pengen konsen kuliah”
“hubungannya sama aku”
“yah..ini kan kesempatan buat kamu. Buat deket sama ivan. Kamu kan ahli tuh kalau ngedit-ngedit”
“tapi..”
“udah gak pake tapi..ntar aku bilang ke ivan deh kalau aku punya teman ahli ngedit”
“ngarang kamu, Van”
“bukannya bisa dekat sama ivan tuh impian kamu. Percuma aja kamu berlatih kalo ternyata kamu gak berani maju ke medan pertempuran”
“iya aku tau..tapi aku tuh malu”
Tak ada ekspresi dari vanya. Dia terus membolak-balik halaman buku. Enggan mendengarkan penolakanku. Perasaanku mulai tak menentu. Dekat dengan ivan?. Oh..God.
“van, ini tyas temanku yang aku certain ke kamu kemarin. Namanya tyas. Dia ulet dan yang pasti bisa diandalain” ujar vanya promosi
“temen sekelas kamu kan?” Tanya ivan tanpa menolehku sedikitpun.
“ehm..iya”
“yang aku butuhkan orang yang benar-benar bisa diandalkan. Gak malas. Dan yang pasti aku benci banget sama orang yang baru bekerja pas deadline udah dekat. Ngerti?”
“van, galak banget sih” ujar vanya protes. Aku gak nyangka ivan yang aku tau selama ini begitu lembut. Galak banget. Ini benar ivan bukan sih?.
“vanya, aku gak pernah main-main kalau masalah pekerjaan. Gak sanggup?. lebih baik gak usah”
“iya aku sanggup” ujarku segera. Aku gak ingin perseteruan diantara dua saudara ini semakin memanas. Aku sadar ivan punya alasan melakukan semua ini. Aku tau dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kampus ini.
“ ehm..tyas ya?”
Aku benar-benar terkejut. Ivan. Dia mengingat namaku.
“iya!” jawabku singkat. Jantungku berdekup kencang. Aku seakan menjadi batu. Kaku.
“maaf ya soal yang kemarin. Kadang ada hal-hal yang buat aku jadi sensitive”
“gak apa-apa kok. Aku udah paham. Jadi kamu emang berat”
“ya makasih. Tapi soal keseriusan kerja itu serius lho”ujarnya sambil tersenyum.
Uh..cakep banget sih kamu. Senyum kamu..mempesona.
“kerja keras itu penting kalau pengen sukses. Orang kalau kita pengen liat indahnya pelangi, kita musti ngadepin hujan dulu kan?”
Aku hanya mengangguk pelan. Ternyata kamu puitis banget.
“oh..iya..kamu suka ke pameran buku gak?”
Aku mengangguk pelan. Walaupun jujur, aku terkena sindrom ill-fiil sama buku sejak kecil.
“kebetulan dong. Gimana kalau ntar sore kita ke sana?. Gak ada acara kan?”
Apa, Van?. Kamu ngajakin aku jalan?. Oh..God aku sudah bangun kan?
“bisa gak?” tanyanya mengejutkanku.
“bisanya sih bisa. Tapi dina, reika, vina, titi gimana nih?” ujarku jaim.
“mereka?gak ada yang masuk. Bawel-bawel..hii” ujarnya sambil menyeringai. Lucu.
“oh..gitu?”
“mau kan? Ya udah. Ntar sore abis maghrib. Aku jemput kamu ke rumah”
What?rumah?jemput?. kayaknya aku lagi mimpi deh. Kaki seakan tak menapaki bumi. Tubuhku seakan melayang. Melambung tinggi.
Satu jam sudah aku mengelilingi tempat ini. Membosankan. Aku sama sekali tak tau apa yang ivan bicarakan. Quantum ikhlas?, big shot?, human elyon?,pinkan? Apa sih itu? Makanan khas America ya?. Harun yahya?, banyu biru?, eMeLeM? Siapa lagi sih itu? Kalau banyu biru yang dibicarakan artis muda mantan kekasihnya rianti catwright aku tahu. Kalau banyu biru penulis ?uch..
“tau gak buku ini tuh banyak menginspirasi kehidupanku”
ku lirik buku berbalut warna biru marun itu sinis. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum. Hanya ada satu kata dalam benakku. Pulang.
Setelah tiga jam, ivan baru menyadari aku bosan. Akhirnya. Aku benar-benar lega.
“mau makan apa?”
“terserah kamu aja” ujarku pelan. Aku benar-benar capek. Urat-urat di kakiku seakan mau putus.
“ya udah..ke kedai itu aja ya?”
Aku hanya menganguk pelan.
15 menit menunggu akhirnya nasi goreng pesananku, lebih tepatnya pesanan ivan datang. Tak lupa 2 coklat panas menemani. Aku sudah menduga ivan pasti memesan coklat panas. Aku tau dari vanya. Ku nikmati pelan-pelan nasi goreng itu, walaupun sebenarnya perutku menginginkan gerak cepat. Aku begitu lapar.
“permisi ya..” ivan mengusap daguku. Jantungku seakan berhenti berdekup
“ada nasinya”
Aku tersenyum malu. Bodoh. Kok sampek blepotan sih.
Titititit..
“sowry..alarm” ivan segera bangkit dari duduknya. Ku lihat tubuhnya mulai tak terlihat. Terhalang pintu kedai. Alarm?. Alarm apaan?. Apa ivan menentukan jam tidur dirinya sendiri. Tapi tak mungkin. Sudah dua kali ini aku mendengar alarm itu. Pertama siang tadi, sekitar pukul 12 siang, saat ivan membantuku mengecek file. Dan itu terjadi setelah ia selesai makan siang.
“udah cepetan dihabisin. Terus kita pulang”
Aku berlari melewati koridor. Aku terlambat bangun pagi ini. Pagi yang menentukan. Ivan akan mengecek hasil kerjaku selama satu bulan ini.
Ku tarik napas perlahan. Pelan-pelan ku masuki ruangan kecil berukuran 3x5m yang menjadi tempat kerjaku satu bulan ini. Tak kudapati ivan disana. Ku cari sosok yang selalu aku tunggu datangnya dalam setiap mimpi-mimpiku itu. Tapi nihil. Padahal kemarin malam dia yang menelponku agar aku tak terlambat. Apa mungkin ivan terlambat?. Aku tak pernah melihatnya datang terlambat. Disiplin. Itulah prinsip hidupnya.
20 menit aku menunggu. Tapi ivan sama sekali tak terlihat. Sudah tak terhitung lagi berapa kali aku menelponnya. Tapi sama sekali tak ada jawaban. Pesan singkatpun tak lupa ku kirim setiap menitnya. Vanya pun tak tau menahu masalah ini. Aku mulai takut. Takut terjadi apa-apa dengan ivan.
“maaf ya ty..aku terlambat”
Ku lihat keringatnya bercucuran. Terlihat begitu lelah. Nafasnya pun begitu kacau. Terengah-engah.
“udah lama ya?”
“ehm..lumayan sih!”
Ku sodorkan minuman dan sapu tangan. Tapi dia hanya terdiam lebih tepatnya melamun. Tak memperdulikanku. Ku amati wajahnya. Ada beban berat dalam pikirannya. Setidaknya itu yang dapat kubaca.
“van, kamu baik-baik aja kan?”
“gak-gak apa-apa kok” ujarnya gugup
“mana filenya?. Biar aku cek”
“van, kamu ada masalah ya?.”
“gak ada kok. Filenya?”ujarnya berkelit
“van, selam ini kan kita selalu bersama. Kita hadapi masalah bersama. Termasuk masalah pribadi kamu dengan empat cewek itu kan?. Kenapa sekarang enggak?.”
Dia hanya terdiam. Aku dan ivan memang sangat dekat. Urusan pekerjaan yang membuatku selalu bersamanya. Masalah apapun selalu kami selesaikan bersama. Termasuk masalah pribadinya dengan empat cewek penggila dirinya yang menurutnya sangat mengganggu. Yah..aku berpura-pura menjadi ceweknya. Sakit memang. Aku sangat berharap tidak menjadi nona hanya dalam sandiwara.
“ada film baru. Nonton yuk..”ajaknya mengalihkan pembicaraan
“aku hanya pusing. Mungkin dengan nonton pusingnya akan hilang” lanjutnya
“boleh deh”ujarku mengiyakan permintaannya karena aku pikir, dia akan bercerita jika suasananya jauh lebih dingin. Nanti. Ya..nanti dia akan bercerita padaku.
Ramai. Itu yang dapat kuamati pertama kali menginjakkan kaki di gedung bioskop. Antrian sudah panjang. Uch..aku begitu pusing. Ingin pulang saja. Tapi aku tetap bersemangat demi ivan.
Aku masuk ke dalam antrean. Aku tak tega membiarkan ivan mengantri sepanjang ini. Dia terlihat lelah. Sangat lelah. Tak bersemangat seperti biasanya. Dia lebih banyak diam. Bahkan sangat diam. Mulai dari kampus hingga detik ini, tak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Dia sama sekali tak melarangku untuk masuk ke dalam antrean yan sangat panjang. Aku tak mengenalnya hari ini.
10 orang lagi, aku akan sampai di depan loket. Lega. Satu jam penderitaanku akan segera menuai hasil dalam hitungan menit lagi.
“kukuruyuk-kukuruyuk”
Bunyi itu, bunyi yang sangat ku kenal. Bunyi handphone ivan. Ku toleh ivan yang berada kurang lebih 5 meter dari tempatku berdiri. Tebakanku tak salah lagi. Aku melihat ivan pergi dari tempatnya berdiri. Mengangkat telpon. Aku hanya menarik nafas panjang. Dia selalu menutupi semuanya dariku. Aku tak pernah mendapat jawaban dari setiap pertanyaanku. Alarm yang berbunyi pada jam-jam tertentu itu untuk apa?, dia selalu tergesa-gesa pergi ketika kelas berakhir?, atau ketika dia pergi disaat istirahat rapat yang hanya 20 menit. Perih. Aku merasa seperti pakaian, dekat dengannya tapi tak pernah tau hatinya.
“ty..aku balik dulu ya..”
”kurang 5 orang lagi, Van!”
“sorry banget, ty”
Ku lihat dia berlari meninggalkanku. Aku segera keluar dari antrean. Mengejarnya.
“van..ivan..” teriakku
Dia terus berlari. Tak memperdulikanku. Aku berusaha mengejarnya. Meminta penjelasan padanya. Baru kali ini hatiku benar-benar panas. Aku ingin marah padanya.
“van..” ku pegang erat lengannya.
“maksud kamu…” ucapanku seakan tercegat di tenggorokan. Aku benar-benar terkejut. Ivan menangis?. God, aku tak salah lihat kan?. Ini mustahil untuk orang semacam ivan. Dia begitu kuat. Bahkan saat kedua orang tuanya bercerai. Dia tetap bangkit. Dan seakan tak pernah ada hal buruk yang menimpanya. Aku tau itu dari vanya. Dan itu benar. Aku dapat mengamatinya dan merasakannya. Betapa kuatnya seorang ivan.
“aku minta maaf banget, ty. Aku harus pergi sekarang” ujarnya sambil menyeka air matanya.
Perlahan genggamanku melemah. Dan membiarkannya pergi. Pergi meninggalkanku.
Pagi ini, kucari ivan di setiap sudut kampus. Tak lupa aku mencarinya di tempat aku bisa mengamatinya ketika pagi. Dekat jembatan. Tapi aku sama sekali tak menemuinya. Begitu juga dengan vanya. Aku tak melihat batang hidungnya pagi ini. handphonenya pun tak aktif. Aku mulai merinding. Ivan dan vanya adalah saudara. Tak menutup kemungkinan mereka tak masuk karena ada apa-apa dengan keluarga mereka.
Aku terus berjalan menuju taman di belakang kampus. Mungkin disana aku bisa menemui ivan. Aku ingat ivan sering merenung di taman belakang kampus karena suasanya yang sunyi.
Mataku terus berkeliaran mencarinya. Dan pandanganku terhenti di sudut taman, dekat sungai. Aku menemukan sosok itu. Sosok yang kucari-cari.
“van..”ku panggil namanya pelan
Dia hanya menolehku. Pelan-pelan aku duduk disampingnya. Senyap. Itulah yang kurasa. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut kami. Aku takut bertanya padanya.
“setengah mati aku jagain dia” ujarnya mengawali pembicaraan.
“tapi rasanya sia-sia” lanjutnya
Aku tak mengerti apa maksud dari pembicaraannya. Dia?. Dia siapa?.
“aku ngerasa kalau hidup aku benar-benar gak berguna”
Aku berusaha mencerna kalimatnya. Kenapa ivan bicara seperti itu?.
“setiap kali aku berdoa pada Tuhan. Biar aku saja yang menanggung semuanya. Jangan ara. Dia jauh lebih berarti dari pada aku.”
Ara?. Aku begitu asing dengan nama itu. Vanya tak pernah menyebut nama itu. Adik ivan kah?. Tapi sepertinya bukan. Vanya pernah bercerita padaku bahwa ivan anak tunggal.
“van, sebelumnya aku minta maaf..tapi ara itu siapa?”
“dia itu hatiku”
Aku semakin bingung. Apa ivan menamai hatinya ara?. Berarti ivan punya penyakit hati. Uch..kok jadi ngaco sih.
“dia gadis yang selalu bisa bikin aku tertawa. Semangat. Dan selau menginpirasi ku untuk lakukan hal-hal baru.”
Ivan menarik napas panjang
“aku sayang banget sama dia. Dia itu gak ubahnya seperti matahari. Dia selalu menerangi hidupku. Dengan senyumannya”
Hatiku seakan hancur. Walaupun aku tak tau pasti, jika maksud perkataannya itu menandakan kalau selama ini dia mempunyai kekasih. Aku berusaha tegar. Aku tak mau menangis disini. Aku tak mau ivan tau perasaanku di saat-saat seperti ini. Ini semua salahku. Aku tak pernah bertanya padanya tentang hubungan asmaranya. Aku terlalu takut menerima kenyataan.
“aku masih ingat waktu pertama kali aku mengejar dia…perjuangan” ujarnya sambil tersenyum.
Hatiku semakin luluh lantak. Aku benar-benar iri. Betapa beratinya seorang ara di matanya. Tak seperti diriku yang hanya menjadi bayang-bayang.
Ivan memandangku. Diriku seakan beku. Tak pernah seorang ivan memandangku seperti itu. Begitu dalam. Darahku seakan berhenti mengalir. Seluruh organ tubuhku seakan berhenti bekerja. Walaupun telingaku sangat ingin mendengar apa yang akan ivan katakan padaku. Yang ingin ku dengar selama ini atau yang lainnya?.
“vanya bilang sama aku, kalau kamu sayang banget sama aku, kamu rela lakuin apapun buat aku, termasuk berpura-pura menjadi kekasihku”
Oh..God..kurang ajar si vanya dia certain semua rahasiaku ke ivan. Aduh..gimana nih?. Dia pasti juga uda tau kalo aku, ..pemuja rahasianya.
“bunuh aku, ty”
Aku begitu terkejut dengan ucapannya. Aku tau ivan gak bercanda.
“bunuh aku kalo emang kamu sayang sama aku…”
“van, itu gak mungkin. Aku sayang sama kamu van, aku rela lakuin apapun buat kamu, tapi gak untuk yang satu ini”
“Cuma ini satu-satunya cara supaya ara bisa terus hidup”
Aku hanya terdiam. Seberarti itukah seorang ara dimata ivan.
“bunuh aku ty, dan suruh dokter ambil semua yang ara butuhkan”
Berharap. Itulah yang terlukis di wajah ivan. Kepalaku benar-benar pusing. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Menuruti kemauan ivan?. Itu gila. Tapi tak menurutinya dan membiarkan ara pergi, itu sama saja dengan membiarkan ivan hidup tanpa jiwa. Membayangkannya pun aku tak sanggup. Fiuh..
Ku pandangi wajah cantik di sudut taman. Duduk membisu diatas kursi roda. Pandangannya kosong. Aku tak tau apa yang dipikirkan. Tapi aku tau apa yang dia rasakan. Perih. Sama seperti yang kurasakan. Ku amati setiap lekuk tubuhnya. Begitu indah. Aku berusaha mencuri-curi pandang darinya. Aku ingin menatap matanya yang bening karena dari situlah aku bisa menatap ivan.
Ku dekati wajah cantik itu. Aku mendengar dekupan jantungnya. Jantung yang dulunya bekerja untuk ivan. aku menarik napas panjang. Ivan telah pergi. Kecelakaan telah merenggut nyawanya. Kecelakaan yang dia rencanakan menurutku. Agar ara tetap hidup. Terbebas dari penyakit pericardis yang selama ini membelenggunya, kanker mata yang membuatnya hampir tak dapat melihat dunia lagi.
Ku amati handphone ivan yang kuminta dari vanya. Masih ada alarm-alarm itu. Alarm yang akan berbunyi pada saat-saat tertentu untuk mengingatkan ara kapan ara harus makan, istirahat, check up, dan minum obat. Begitu berartinya seorang ara di mata ivan. Dan tak dapat ku pungkiri, perlahan tapi pasti aku mulai merasakan apa yang dirasakan ivan terhadap ara. Ara begitu berarti. Tutur katanya, kelembutannya, kecerdasannya, keluguannya, dan kepeduliannya terhadap orang lain membuatku tak ingin dia pergi dari dunia ini. Melindungi, satu kata yang ingin ku persembahkan untuk ara dan mulai ku coba merealisasikannya.
Hari mulai gelap dan mataharipun mulai berpamitan. Sudah 3 jam aku berada di tempat ini. Menemani orang yang ingin ku lindungi. Tak ada kata pulang yang selalu kulafadzkan ketika aku bosan. Ku amati sekelilingku. Indah. Aku dapat melihat matahari yang akan pulang, burung-burung yang berduyun-duyun menuju “sangkar”. Pemandangan yang tak bisa ku amati sebelumnya.
“sudah gelap, Suster..kita pulang”

2 komentar:

  1. rame juga,,tapi nuy mau nanya,,
    kira-kira tips buatt nulis cerpen itu gimana ya?

    BalasHapus
  2. truss khan nuy barru msuk bogger, nah kalo mau gabung ke web" yang udah ada gimana caranya?

    BalasHapus